Itulah kalimat yang akan diucapkan Pak Kecek bila Anda mempunyai penyakit dalam.
Namanya Pak Kecek, baca ‘e’ nya seperti pada kata ‘merah’. Alamatnya di Betek gg.17. Cukup sulit menemukan rumahnya yang amat sederhana dan melewati gang sempit. Saking sempitnya, sepeda motor saja tidak bisa berpapasan. Namun bila Anda sudah berada di sekitar situ, tanya saja kepada setiap penghuni kawasan maka mereka pasti mengenal Pak Kecek dan senang hati menunjukkan arah rumahnya yang bisa dicapai dari berbagai alternatif jalan. Rupanya pak Kecek cukup terkenal di daerah situ.
Berawal dari kecelakaan yang pernah saya alami 7 tahun lalu ketika masih menjadi ‘ali topan anak jalanan’, kebut-kebutan di kawasan Pujon yang berkelok-kelok, motor saya pacu sambil bermanuver sana sini menaklukkan tikungan dan ‘rival’ dadakan yang ditemui. Dasar anak muda! Belum punya pikiran dewasa yang penting senang. Sampai di satu belokan tajam saya nekat menyalip sebuah bus mini Bagong Puspa yang juga terkenal ugal-ugalan. Itu adalah tikungan ke kanan, sebelah kiri tebing dan sebelah kanan jurang. Rupanya saya terlalu miring mengambil sikap. Bus berhasil saya salip tapi motor Crypton yang minim modifikasi itu memang tidak didesain untuk arena balap. Pullstep (pijakan kaki) terlalu rendah sehingga menggores aspal menyebabkan motor justru tertarik lebih miring ke kanan, apalagi memang kondisi sirkuit jalan agak landai ke kanan. Motor dan saya terjatuh miring ke kanan dengan kecepatan tinggi di depan bus yang saya salip, namun saya masih sangat sadar melihat bagaimana saya membiarkan diri terlempar sampai berhenti dengan keras karena tertahan tebing. Fiuhhh!... pengalaman hebat yang tak ingin terulang. “Untung belok kanan, kalau belok kiri kan masuk jurang aku….” Setang motor bengkok, lampu dan bodi depan pecah, tapi motor masih sehat untuk dikendarai sampai saya tiba di Kediri. Setelah itu sebenarnya semua orang menyarankan saya untuk segera dipijat tapi saya tolak karena saya tidak merasa ada yang sakit, cuma lecet-lecet kecil saja. Dasar keras kepala. 4 bulan kemudian saya mulai merasakan sakit di punggung dan dada sebelah kiri. Itupun masih saya anggap mungkin masuk angin biasa. Seminggu kemudian ternyata semakin parah, bernafaspun terasa sakit seperti ada yang menusuk dada. Kapok lu!.Saya pun menyerah dan bersedia diobati. Untung sekali tetangga saya ada yang ahli pijat, namun biasanya pijat bayi. Namanya mbok Jah, insyaallah kapan-kapan saya ceritakan tentang mbok Jah ini. Setiap hari dia tidak pernah sepi pasien yang datang bahkan dari luar kota. Setelah dipijat memang mendingan dan sakit di dada kemudian hilang. Sejak saat itu bagian tubuh saya sebelah kiri menjadi tidak sekuat dulu. Bila terkena dingin, pundak kiri terasa ngilu dan tangan kiri tidak kuat mengangkat beban berat. Sampai sekarang. 3 bulan terakhir ini gangguan dari sektor sebelah kiri ini rupanya kumat. Pundak dan lengan serasa ada yang keseleo dan merasa capek padahal tidak bekerja apa-apa. Mau kembali ke mbok Ja agak sungkan karena dia sudah tidak kuat memijat orang besar, cuma bayi. Meski harus saya akui ilmu anatominya sangat tokcer bahkan dibanding dokter sekalipun. Beberapa tukang pijat pernah saya datangi namun kurang memuaskan. Akhirnya saya diberitahu tentang pak Kecek. Orangnya terkesan sangar dengan tato swastika di tangan dan rokok Surya tak henti mengepul dari bibirnya. Usianya sekitar 50-an tahun. Tinggi sekitar 160cm dengan perut agak buncit. Rambutnya agak keriting dan terkesan acak-acakan, saya jadi teringat almarhum WD Mochtar yang dulu sering main filem berperan sebagai raja yang lalim. :D
Pertama datang dan tanpa basa-basi saya langsung dipersilahkan duduk di salah satu kursi tamu yang agak digeser ke tengah. Tanpa ditanya dia langsung memegang beberapa titik. Di pundak kanan kiri, dada, punggung. “Sampeyan konslet di bagian sebelah kiri, ada urat yang menempel…, mau dibenerin yang bagian ini saja atau semua bagian?” Wow, kok tepat sekali ? padahal saya ndak cerita apa-apa? “Ya kalo bisa dicek semua lebih bagus pak Kecek..” jawab saya. Dia lalu meraba dan menekan beberapa titik mulai pundak, punggung, tangan dan kaki. “Ginjal 3 kabel, baik.., lambung 3 kabel baik…, paru-paru 3 kabel, konslet… darah tinggi, baik… asam urat, baik.. darah rendah, sampeyan punya darah rendah…, kencing manis, baik..” Wow kedua kali, saya seperti sedang mendengar laporan cek up lengkap dari sebuah mesin kesehatan. Setelah itu dia menekan di beberapa titik yang konslet tadi. Tidak sampai sepuluh menit, dia bilang sudah selesai. Kabel-kabel yang konslet sudah diperbaiki. “Setiap orang, siapapun, kabelnya sama. Ada 41 kabel dan bila ada yang konslet saya tau.. biasanya saya tanya mau diperbaiki berapa kabel? sebagian kabel atau 41 kabel semuanya?” Oh, saya cuma bisa manggut-manggut. Maut nih ilmunya.. belajar dari mana ya? Saya kira cuma ada di cerita-cerita silat kho ping ho atau di filem jet li.. ternyata ilmu anatomi urat ini juga saya temui di sini. “Matur nuwun pak Kecek..” kata saya sambil pamit. Mungkin kalau saya sedang hidup di dalam cerita saya akan bilang sembari hormat, “Sufo Guru Kecek… terimakasih atas kebaikan budimu. Bila kita berjodoh, kita pasti akan bertemu lagi..” hehe kayak certa Pendekar Pedang Pembunuh Naga. Yang saya rasakan sekarang memang mendingan dan semoga bisa sembuh seterusnya.
|