11

Apr

2008

Mr. Haji Holil
People

Salah satu dari 7 golongan yang akan mendapat yup-yupan (naungan yang teduh) di hari tidak ada naungan adalah orang yang selalu memakmurkan masjid. Itu salah satu pelajaran yang saya dapatkan waktu di sekolah SMP dulu. Waktu itu saya memahami orang yang memakmurkan masjid adalah para takmir (petugas) masjid yang bekerja dengan rajin membersihkan, penjaga parkir dan petugas penitipan sandal/helm serta beberapa jajaran pengurus lainnya. Memang waktu itu sekolah saya menjadi satu dengan sebuah yayasan Islam yang cukup besar dan terkenal yaitu yayasan Almaarif Singosari Malang.

Pelajaran yang menemukan contoh nyata membuat saya cepat paham dan gampang untuk mempraktekkannya. Seperti teori itu tadi, saya dengan mudah hampir tak memeras kemampuan berkhayal untuk menemukan contoh nyata dari golongan orang-orang baik ini.

Agak berbeda dengan teori tentang salah datu dari 8 golongan penerima zakat yaitu Ibnu Sabil alias orang yang dalam perjalanan atau berkelana mencari ilmu. Saya masih agak kesulitan bahkan sampai sekarang untuk pernah menemui langsung macam orang yang termasuk golongan ini. Apakah dia seorang pengelana seperti film Rhoma Irama dulu itu, atau orang yang bertapa di tempat-tempat keramat, atau yang bagaimanakah? .. terus terang masih ndak begitu jelas bagi saya.

Oke, sejak kecil (SD) saya telah mengenalnya, namanya Dek Cholil, meski dia sudah besar, lebih tua 10 tahun, tapi saya diajari memanggil dek karena budaya feodalis jawa yang unggah ungguh dulur tuwa masih berlaku di keluarga saya. Sekarang setelah hampir 20 tahun mengenalnya, saya sudah sungkan memanggil Dek karena beberapa alasan, pertama karena saya secara pribadi ingin menghapus budaya feodal ini, kedua karena hal yang akan saya tulis dibawah ini.

Sejak mulai kenal dulu saya tahunya dia adalah orang yang sering datang ke rumah, menginap beberapa hari lalu pergi. Tidak pernah berbekal banyak hanya sebuah tas terkadang juga tidak membawa apa-apa. Sebagai anak kecil saya senang dengannya karena badannya berukuran besar seperti raksasa dan bicaranya medok khas orang Kediri. Penampilannya sangar tapi sederhana dan sopan.

Baru setelah besar ini saya tahu bahwa selama hidupnya dia wira-wiri, luntang lantung seperti orang tidak bekerja adalah untuk mencari dana pembangunan masjid di desanya. Saya melihat sendiri mulai masih sebidang tanah dan pondasi sampai sekarang menjadi masjid pusat di desanya. Hal itu dia lakukan sendiri. Usut punya usut saya diberi cerita bahwa memang dia berjanji kepada guru ngajinya almarhum bahwa dia tidak akan menikah sebelum masjidnya jadi.

Sekarang bangunan masjidnya sudah jadi megah. Rumah dia sendiri masih sederhana disamping masjid, terakhir saya kesana dia memilih tinggal di sebuah kamar kecil di bangunan depan masjid.

Lambat laun saya sadari orang ini adalah orang yang benar-benar mengabdikan jiwa dan raganya untuk masjid. Benar-benar untuk masjid. Sejauh yang saya ingat, saya alami bersama, mengantarkan, membantu membuatkan surat, berdiskusi dan beberapa kali ikut wira-wiri bersamanya, semua judul pembicaraannya adalah tentang masjidnya yang rupanya sudah dia cintai hidup mati itu.

Suatu hari dia tiba-tiba muncul di rumah saya, jam 8 pagi dia datang, minta tolong membuat surat permohonan dana masjid dan jam 11 dia buru-buru pulang tanpa bisa saya cegah. Kenapa buru-buru? Dia bilang, hari ini musti segera pulang karena imam masjid sedang kosong. Wakilnya yang biasanya bisa menggantikan dia sebagai iman hari ini berhalangan karena ada undangan pengajian di luar desa, jadi dia musti segera mengurusi jamaah masjidnya. For your information, jarak rumahnya dari rumah saya adalah 100km lebih.

“Bang haji Holil, so kapan menikah? Masjid dah jadi, jamaah sudah ramai, janji sudah terlaksana, kok belum menikah? Kalah sama saya dong…, “

Dia bilang, “..susah saya mencari istri yang mau sama saya.”

“Lho kenapa?”

“Adakah istri yang mau saya jadikan istri kedua?”

“Maksudnya?”

“Karena istri pertama saya adalah masjid saya..”

ImageAmin, amin, amin… bang haji Holil (dia sudah haji 9 kali, semua atas beaya orang lain yang mengajaknya) you benar-benar termasuk golongan yang satu itu, orang yang memakmurkan dan hatinya selalu terpaut kepada masjid. Seorang lelaki sejati yang memilih untuk memegang janji dengan seluruh jiwa raga. I’m the witness.

Jadi, sengaja saya tulis cerita ini sebagai saksi hidup tentang seorang yang saya bilang cukup langka di jaman sekarang ini. Ssst.. Ada yang mau daftar jadi istrinya keduanya? Saya bersedia memberi no Hp-nya.

Bookmark with:

Digg    Facebook    Newsvine
 
 
Webame268.com
cheap room in Bali Trusted Bali Business Directory Joomla templates and extensions dotshop, Toko Online Otomatis untuk Anda! Eko Flower | Perangkai Bunga Istana Negara Bali Pasadena Furniture | Finest Rattan Manufacture in Bali Info Cepat Jual Beli dll untuk Anda Omah Desa | Rumah Damai di tengah Desa. Harga Promo! Property Gallery Bali Your ad here Your ad here Your ad here Your ad here Your ad here Your ad here Your ad here Your ad here Your ad here Your ad here Ingin pasang banner disini? Klik ini..

My Blog Categories