Sungguh saya masih belom bisa berkata-kata, melihat berita duka ini disiarkan dimana-mana, tanpa terasa mata menjadi basah... Apapun, rasanya seperti telah kehilangan seorang bapak. 
Innalillahi wa inna ilaihi rojiun. Sampai jumpa lagi, Gus Dur ... :(
|
Adalah menjadi tugas saya untuk bersikap. Bahwa kebebasan berpendapat dan mempublikasikannya bisa ditolelir selagi tidak menyentuh hal-hal pokok dalam ajaran Islam. Seperti halnya saudara Sakti yang dengan teramat beraninya memproklamirkan diri menjadi Rosul utusan Tuhan. Bahkan tanpa sungkan mengutip banyak ayat Alquran kemudian mentafsirkannya berdasarkan logika pikirannya dia sendiri yang kemudian terang-terangan mempertentangkannya dan juga menentang keyakinan mayoritas umat Islam.
Hal tersebut amat tidak bisa diterima. Adalah saya merasa wajib untuk bersikap. Dan sikap saya adalah menganggap hal ini adalah sebuah kemungkaran yang apabila kamu mampu, rubahlah dengan tanganmu, bila tidak mampu dengan lisanmu dan bila tidak mampu cukuplah kamu membenci dalam hati, dan yang demikian adalah selemah-lemahnya iman. Semoga wakil perpanjangan tangan saya yaitu MUI, pemerintah dan aparat segera bertindak sigap terhadap saudara Sakti ini. 

|
|
|
|