18

Sep

2010

There is no Free Lunch for Sidobangun
General

Sidobangun adalah sebuah pabrik plastik (Export – import) yang berada di kota saya Singosari – Malang – Jawa Timur. Saya ingat bahwa pabrik ini sudah berdiri megah dan terbesar semenjak saya masih SD, jadi sudah berdiri sekitar 30 tahunan lebih. Saat ini mempunyai karyawan sekitar 3000-an orang.

Singkat cerita, keadaannya saat ini sedang dilanda masalah rumit. Pabrik tidak mampu lagi membayar karyawannya. Semua pihak masih saling tuding tentang siapa yang paling bertanggung jawab. Silahkan baca sendiri liputan kasusnya disini , disini dan disini .

Kemaren seorang teman bertandang ke rumah saya, dia adalah salah satu karyawan sidobangun. Dia banyak bercerita tentang kondisi pabrik yang sekarang ini sedang dilanda masalah keuangan. Menyebabkan gaji ribuan karyawan tidak lancar sejak beberapa bulan terakhir ini. Penyebabnya kenapa sampai sekarang juga masih belum jelas. Banyak hal yang diceritakan pada saya tapi untuk kenyamanannya terpaksa tulisan sebelumnya saya edit lagi dan beberapa bagian saya potong sebagai pesanan off the record. Lebih baik membacanya sendiri dari media resmi pemberitaan yang mempunyai narasumber yang lebih jelas. Okelah kalo begitu. Akhirnya tulisan ini saya edit dan tetap saya sisakan apa yang ada didalam benak saya saja. Moga pihak perusahaan bisa merasakan betapa respeknya para pekerja kepadanya agar lebih mempercepat dan serius mengusahakan timbal balik yang serupa.

Setelah dia pulang saya nulis artikel ini.

Hmm, jadi begitu. Yang ada di benak saya yang bodoh ini adalah:

  1. Begitu kacaunya sistem ekonomi kapitalis yang kita lakukan ini. Seorang ternyata bisa berhutang jauh melebihi nilai aset yang dimilikinya. Sebuah pabrik, rumah mewah, mobil-mobil mewah yang dia miliki tapi ternyata tanggungannya bernilai diatas itu.
  2. Ketika sudah macet, mulailah merekah dan bertebaran ancaman bunga-bunga bank. Pastilah hal ini semakin membenamkannya ke dalam bumi.
  3. Setahu saya dalam bermuamalah dalam Islam, prinsipnya begitu sederhana. Bagi hasil. Baik itu mudhorobah atau musyarokah. Untung dan rugi sama ditanggung. Entah siapa yang mengajari mereka begitu pintarnya sehingga kemudian merumuskan berlembar-lembar teori ekonomi dengan beratus istilah yang aneh, dibungkus dengan kepercayaan diri sesaat tambah sedikit bumbu janji muluk dan disajikan bersama gaya kemewahan benda-benda, hingga terjadilah keadaan-keadaan yang menampilkan orang terlihat sangat pintar. Bisa berhutang dengan jaminan melebihi nilai agunannya. Sementara si pemberi hutang juga sebenarnya mempunyai niat yang sama yaitu mengeruk keuntungan dengan pemberian hutang yang disertai seabrek terms & conditions. Jangan menyangka mereka meberi hutang karena menolong. Ingat aturan pertama kapitalisme, THERE IS NO FREE LUNCH
  4. Hutang piutang, sesungguhnya adalah bentuk muamalah yang harusnya dilandaskan kepada semangat tolong menolong. Perlu berhutang berarti dia butuh pertolongan. Tapi beberapa orang pinter mengatakannya “saya perlu hutang dan saya jamin beri imbalan sekian persen, kalau gak percaya ini saya taruh sertifikat saya disini sebagai jaminan, nilainya gak seberapa sih, masih lebih besar hutang saya tapi kan saya komitmen dan tak kenal menyerah kok. (Maksudnya tak kenal menyerah dalam berhutang..) “– Bila kita kembali kepada hati nurani dan logika dasar, kalimat diatas sebenarnya lebih tepat sebagai ajakan kerjasama bagi hasil dari pada akad utang piutang. Mbok ya yang sederhana saja. Kalau utang yang utang saja, pinjam 100 kembali 100, sementara bila ada imbalan semestinya lebih benar diikat dalam kerjasama bagi hasil. Dimana masing-masing pihak sepakat untuk saling terbuka dan menanggung resiko untung dan ruginya. Toh seringkali sudah sama-sama pinter dan bahkan melibatkan dana yang begitu begitu besar.
  5. Lihatlah Lehman Brothers. Bank titil Amerika yang barusan kolaps. Besarnya dana yang diolah tidak langsung berarti benar. Justru mereka kolaps dari mentoknya sistem mereka sendiri.
  6. Lagi-lagi para buruh paling bawah yang menjadi korban. Saya tidak tahu apakah sekarang si pemilik pabrik juga sudah senasib dengan buruhnya yaitu musti menguras tabungan dan mengencangkan ikat pinggang untuk menyelamatkan nasib ataukah justru sedang merencanakan modus selanjutnya sebagaimana teori kejahatan kerah putih? Menarik dana secara cepat yang lebih besar dan mengorbankan aset yang sudah ada untuk disita. Toh dalam buku panduan negeri ini seorang pemilik PT yang pailit kekayaan pribadinya tidak bisa ikut disita bila Ptnya bangkrut. Yang tampak sih mobil mewahnya masih ada dan masih sering ke luar negeri.

Duh, panjang nian artikel ini.. cukup sekian dulu. Kita diskusikan sambil ngopi di warteg pojok yuk.

Bookmark with:

Digg    Facebook    Newsvine
 
 
Webame268.com
cheap room in Bali Trusted Bali Business Directory Joomla templates and extensions dotshop, Toko Online Otomatis untuk Anda! Eko Flower | Perangkai Bunga Istana Negara Bali Pasadena Furniture | Finest Rattan Manufacture in Bali Info Cepat Jual Beli dll untuk Anda Omah Desa | Rumah Damai di tengah Desa. Harga Promo! Property Gallery Bali Your ad here Your ad here Your ad here Your ad here Your ad here Your ad here Your ad here Your ad here Your ad here Your ad here Ingin pasang banner disini? Klik ini..

My Blog Categories