Ada 2 acara perayaan. Yang satu dilaksanakan di gedung dan yang satu di lapangan dengan menyewa tenda. Acara gedung dipanitiai dan dihadiri oleh kalangan orang-orang modern, dari penampilannya saja terlihat. Busana berbatik, sebagaian berdasi, bersepatu necis dan berikat pinggang. Rapi jali. Acara gedung sudah dipersiapkan berbulan-bulan sebelumnya. Para pembicara dan orang-orang yang akan maju memberikan sambutan telah dihubungi jauh hari sebelumnya, dikonfirmasi tentang tema acara dan ditanya setengah dipesan kira-kira materi yang akan disampaikan adalah begini dan begitu. Seksi konsumsi bekerja rapi mempersiapkan konsumsi dengan menghitung jumlah hadirin setepat mungkin. Alhasil pada hari H-nya, para undangan hadir membawa kertas undangan dan tepat waktu karena sudah dipahami bersama bahwa penggunaan gedung tidak boleh sampai molor waktu atau akan terkena sewa tambahan. MC membawakan acara sesuai konsep proposal, penyambut dan pembicara menyampaikan materi sesuai konfirmasi, penutup dan doa lalu makan-makan. Alhasil acara berjalan lancar dari awal sampai akhir.
Sementara acara satunya dipanitiai dan dihadiri orang-orang tradisional. Berpeci dan bersarung. Bersandal, jarang bahkan tak ada yang bersepatu. Ibu-ibu boleh membawa anak kecil. Lokasi acara dikelilingi pedagang kaki lima. Alhasil suasana acara bak pasar malam plus sebuah panggung di depan penonton. Meriah ruwah ruwah. Para penyambut dan pembicara dipanggil kedepan untuk diminta menyampaikan sambutan dan pesan-pesannya. Kesibukan di dapur umum luar biasa, makanan seolah tak pernah henti mengalir dan hadirin pun tak terlalu sungkan untuk minta makan bila ada yang merasa belum mendapat jatahnya.
Memang beda. Di acara yang pertama begitu saya rasakan atmosfir keteraturan yang terkonsep rapi hingga semuanya musti mengalir sesuai konsep yang telah disusun dibelakang layar. Orang-orang yang tampil dipanggung pun terasa lebih sekedar membaca teks yang telah diatur. Acara berjalan tanpa ketegangan yang berarti. Sementara di acara yang kedua, lebih terasa aksi spontanitasnya Selain karena memang persiapan yang terbiasa tidak terlalu lama juga karena memang atmosfirnya telah terbungkus dengan rasa siap akan segala kemungkinan. Kemungkinan pembicara tidak datang, kemungkinan peserta membludak, kemungkinan materi yang disampaikan keluar tema. Semuanya telah siap. Siap diterima. Hadirin yang datang entah dengan cara bagaimana telah mempunyai mental memaklumi segala hal yang ada. Tidak ada gerutu bahkan semua berwajah sumringah meski berjubel dalam ketidak teraturan. Pembicara yang tampil masih sempat cengengas-cengenges melempar joke kesana kemari sekenanya. Dan itu memang diterima. Acara yang pertama atmosfirnya adalah ‘menampilkan kita dan mereka sesuai tempat dan waktu itu saja’, sementara acara yang kedua atmosfrnya adalah ‘menampilkan kita dan mereka apa adanya sepanjang waktu’. Paham ndak seh?
|