Nah, untuk menyambungkan antara Tung Desem yang bilang harus take action dan Pak Yai Durahman yang telah menerangkan hakekat makna hidup dan kehidupan ini, makanya ijinkan saya untuk tutur-tutur disini, begini :
Tentang Undangan Manten, sekarang ini ada istilahnya pra nikah atau pre wedding, dari tingkat paling sederhana yaitu sekedar foto-fotoan sampai yang paling heboh semacam acara pingitan, puasa, upacara lulur, siraman dsb.
Mari kita beri sedikit ATD (Attention to Detail) disini. sampeyan pasti sering melihat sekarang ini undangan manten yang bergambar foto pasangannya. Wah asik tuh, gak kuno, gak kayak jaman dulu, datang ke kondangan manten tapi gak tahu siapa yang jadi manten, paling terpampang namanya saja yang seringkali menyebabkan kita nanya dulu, itu siapa yang jadi manten? Muhammad Mufid itu siapa? Apa si Mamax itu? Oalah, namanya itu to, lha taunya cuma Mamax gitu aja, si Mamax anak Pak Mawardi itu ya? O dapet orang mana? Istrinya kayak siapa ya? Apa gendut juga kayak si Mamax?.. Nah ternyata dengan ditayangkannya foto mempelai di lembar undangan itu pertanyaan-pertanyaan usil itu bisa teratasi.. bagus. Itu Bagus.
 Prewedding Photo Hanya saja makanya tugas dari Pak Yai Bu Nyai untuk selalu tutur tutur karena kita bisa salah paham dan kebablasan dalam membudayakan pre wedding ini. Bila saya menerima undangan manten, disitu tertulis Akad Nikah : 20 Mei, Resepsi : 21 Mei, undangan saya terima di rumah tanggal 15 Mei. Berarti akad nikah belum lagi terlaksana tapi jelas-jelas di undangan tercetak foto-foto mempelai yang sedemikian mesra. Wah ada yang sampe maen gendong segala. Ups, saya kuatir jangan-jangan foto yang tercetak itu sebenarnya adalah foto ‘tersopan’ yang dipilih dari sekian banyak koleksi yang termasuk foto goncengan metakol, janjian pohon asem, cineplex gegremetan, mobilku saksiku atau bahkan kos lautan api. Bukan berarti kita menganggap seperti itu semua, namun ya inilah tutur-tutur, menghidupkan alarm reminder supaya tidak keluar lingakaran kata Mbah Titik Puspa. Sudah sangat banyak pembiasan makna yang terjadi. Kita banyak kehilangan fokus dari esensi yang sesungguhnya . Beli kaset lagu bukan ingin dengar aransemennya tapi penasaran dengan namanya ‘goyang dada patah-patah’, acaranya arisan tapi yang terjadi adalah ajang pamer-pameran, judulnya adalah pembinaan mental tapi sebenarnya adalah pelampiasan balas dendam. Hehe, memang pergeseran budaya itu terjadi secara amat halus seperti keluarnya keringat dari pori-pori, ndak terasa tau-tau basah gitu. Orang tua yang sebenarnya tidak begitu sreg kalau anaknya terlihat berdekatan sebelum akad nikah menjadi ‘terpaksa’ merelakan mereka berpose-pose foto demi acara pre wedding, yang entah dari mana asal usulnya. Ah paranoid budaya barat luh! Ah ya tidak semua. Banyak sekali budaya barat yang kita adopsi dan so far so good. Seperti BH itu adalah budaya barat, bila kita menolaknya ya bayangkan saja betapa perempuan Indonesia musti pake kain kemben dan pating gemandul. Yang saya maksud adalah betapa kita musti selalu ‘Everything is under control’, tetap terjaga dan cerdas memilih yang terbaik. Ukurannya jelas, yaitu agama. Pengalaman menarik : Sekitar 4 tahun lalu saya diundang manten teman. Saya datang berdua bersama seorang teman lagi. Rumahnya di sawojajar. Jam 8 pagi saya datang rupanya masih terlalu awal, suasana masih agak berantakan baru akan ditata kuade kursi dan lain-lain. Mantennya masih dirias. Saya duduk menunggu santai. Tak lama kemudian datanglah pak mudin dari KUA. Dengan tergopoh-gopoh tuan rumah mempersilahkan pak mudin masuk ruang tamu yang masih belum ditata. Saya sendiri membantu angkat-angkat kursi dari ruang tamu itu. Digelar karpet seadanya, meja kecil diseret ke tengah dan manten yang belum selesai dirias dipanggil. Ternyata itu adalah acara akad nikahnya. Saya berdua dengan mendadak menjadi saksi nikah karena tidak ada persiapan untuk saksi. Selesai acara akad, saya lihat pak mudin geleng-geleng kepala tapi no coment lalu pulang. Sehabis itu digelarlah acara resepsi besar-besaran, tamunya saja waktu itu pak walikota (atau mantan gitu, lupa..). Jadi memang ada ituh keterbalikan prioritas antara yang wajib dan sunnah..
|