Tulisan untuk Hari Bumi
Prolog Ketika menyebut diri sebagai manusia modern yang mengaku berperadaban lebih maju marilah sejenak kita lihat kearifan para nenek moyang yang ternyata lebih beradab dalam bergaul dengan bumi. Secara dulu masih kita dengar cerita tentang sakralnya sebuah ‘hutan larangan’. Dengan cara apapun para sesepuh berusaha menjaga hutan larangan dengan segenap jiwa dan raga. Mereka menjaga mitos dan warisan adat turun temurun dengan berbagai ritual dan simbol. Demi membuahkan efek jera bagi pelanggarnya mereka membuat penghardikan, pencopotan kerhormatan, pengasingan dan bahkan pengutukan. Namun dalam hati yang paling dalam semua itu adalah demi penghormatan kepada alam yang telah memberi kehidupan, suatu anugerah diatas segala anugerah. Klimaks
Pertanda mana lagi yang masih ingin kita lihat ? Kemarau kekeringan, hujan kebanjiran, pemanasan global memicu bencana alam, penyakit flu burung muncul karena ekstrimnya perubahan iklim, es di kutub meleleh membuat banyak pulau tenggelam, lapisan ozon semakin tipis. Apakah bahasa ini kurang sederhana ? apakah kita menganggap tiada apa yang terlihat oleh mata kita sendiri? Pertanda mana lagi yang masih ingin kita lihat supaya membuat kita menyadari arti ibu bumi ini?
Lihatlah bagaimana metabolisme bumi ini sedang berlangsung. Ketika manusia modern ini mulai menyadari bahwa satu-satunya planet yang nyaman untuk ditinggali ini mulai terancam serius, kita mulai giat melakukan berbagai upaya untuk menggalang kesadaran lingkungan ini, namun selalu saja ada si kuman yang dengan enaknya memakan segala sumber daya untuk kepentingan dirinya sendiri. Dideklarasikannya hari Bumi, diserukannya Cosmic Christ (konsep teologi yang lebih peduli alam) oleh Dewan Gereja, diusulkannya konsep REDD (Reducing Emission from Deforestation in Developing countries), serta tidak kurang dari rangkaian aksi dan deklarasi lainnya selalu saja masih dibantah oleh jiwa-jiwa pencari alasan, pemikir-pemikir kacau yang tidak menyadari kekacauan pikirannya sendiri dan bahkan berusaha melegalkan dan menyebarluaskan kekacauan ini.
Entah apa yang jadi rencana mereka. Negara-negara besar seperti AS dan negara-negara Eropa yang mempunyai teknologi maju melawan pemanasan global namun sekaligus sebagai penyumbang polusi terbesar justru enggan berbagi. Padahal kerusakan hutan yang dituduhkan kepada negara-negara tropis seperti Indonesia sebenarnya tidak lepas dari peran negara maju yang menjadi pasar ‘penadah’ hasil hutan dan tambang dari tangan para cukong dan mafia yang mengeruk alam Indonesia. AS sendiri sampai sekarang belum juga menerima Protokol Kyoto yang memberi ketentuan pada tiap negara untuk batas produksi karbon. Ternyata kepicikan pandangan dan keinginan keuntungan sesaat juga acapkali dilakukan oleh pemerintah Indonesia sendiri. Lahirnya PP no.2/2008 (Ekplorasi tambang di hutan lindung), Perpu no.1/2004 (Ijin penambangan di hutan lindung), UU no.7/2004 (Legalisasi bisnis air) dapat dipastikan justru akan merusak alam secara “sah”.
Sungguh dahsyat. Modernisasi menghapus segala sakral karena dikatakan identik dengan kekunoan dan kebodohan sementara perubahan membabi buta dianggap revolusi industri dan lebih berbudaya. Tidak ada lagi hutan larangan, tidak ada lagi kesakralan. Kearifan kepada alam dianggap kontra produktif. Para dayang sumbi dan jin gunung penjaga hutan hanyalah dongeng anak. Sungguh itulah jiwa yang sering disebut 'Sesat dan Menyesatkan'. Tidak mau tunduk pada hukum alam dengan alasan modernisasi. Kita menyangka bahwa kita telah sangat logis dan dapat mengontrol segalanya yang sebenarnya itu adalah kedunguan yang bersarang di dalam otak manusia sejak zaman Firaun. Lama-lama kita ini seperti anak kecil yang bandel dan tidak pernah mau diberi nasihat. Bahkan seperti benalu pemakan inang atau seperti kuman pemakan daging tubuh kita sendiri. Tidak peduli bagaimana tubuh yang menjadi inang semakin lunglai karena digerogoti kuman yang pada akhirnya akan mati bersama tubuh inangnya. Pembalak hutan, pembuat polusi besar, peminum minyak, penambang rakus termasuk pembuat undang-undangnya adalah kuman dalam tubuh. Seperti borok di kaki yang terus membesar memakan tubuh sampai tubuh itu sendiri hancur dan tak ada tempat lagi untuk ditinggali. Kontemplasi Maka marilah kita lakukan apapun yang bisa kita lakukan sesuai dengan kapasitas masing-masing. Mulai yang paling sederhana seperti pemisahan sampah, menata lingkungan rumah dan menanam pohon. Beberapa negara mulai membatasi penggunaan kemasan dan barang-barang plastik yang tidak bisa didaur ulang itu. Bayangkan saja tentang anak kita yang kelak akan mewarisi alam setelah kita. Menumbuhkan sense of crisis dalam diri masing-masing secara dispilin dan kontinyu akan berantai kepada kebersamaan sekitar kita. Sebaiknya para pengambil kebijakan mau mengambil pelajaran dari lumpur Lapindo, sebuah tambang ditengah kawasan padat penduduk, sebuah nafsu mengeksplorasi tambang yang dianggap lebih bernilai diatas kehidupan manusia. Seorang yang sangat bijak berkata, “Bila kau menemukan bibit pohon tanamlah, meskipun engkau tahu besok adalah kiamat”.
|