Yah, berbagai istilah baru yang tak pernah terbayangkan dijaman pak Karno dulu mau ndak mau jadi akrab sekarang. Ada istilah pagerank, adalagi alexa rank, ada popularity, ada kampanye ‘do not copy paste’ dan lain-lain. Oke, kita memang sedang berada pada yang namanya new age. Hanya saya ingin sejenak mengingatkan untuk berhati-hati dengan virus-virus modern yang sebenarnya pernah diwanti-wanti dan diwejangkan oleh para orang-orang berilmu bijak.
Virus apa itu? Yaitu virus popularitas dan materialisme. Keadaannya adalah sama seperti di dunia nyata. Kita melihat ada orang yang mati-matian mengejar popularitas dengan berbagai cara. Apalagi di new age ini memang justru sedang booming acara peraihan popularitas secara instan, entah itu ajang idol, kdi, afi, pildacil, dan itu dan ini. Sebagian besar kita sebenarnya menyadari bahwa popularitas instan yang didapat belumlah sebanding dengan materi yang ditampilkan. Faktor populer mengalahkan esensi itu sendiri. Sebuah lagu dangdut lebih laku karena penyanyinya telah populer sebagai artis seksi pelatih aerobic, misalnya. Seorang dai yang menyampaikan ceramah lebih populer karena dia bisa menirukan berbagai macam suara, seorang pakar IT yang sering salah-salah berkomentar lebih populer karena gampang dilobi untuk berbagai kepentingan lain, bahkan terakhir ada artis sinetron yang berkemampuan nyanyi pas-pasan menjual albumnya dengan kemasan CD plus kondom, lagi-lagi adalah untuk memperoleh popularitas.
Sejenak lihat sekeliling, semakin hari kita semakin menjauh dari konsentrasi yang sebenarnya, kita mendengar lagu tidak untuk menikmati aransemennya tapi membayangkan mulusnya si penyanyi, mendengar ceramah tidak untuk bertobat tapi kita pilih ceramah yang lucu untuk pelepas stress sejenak. Begitu besar bungkusan popularitas ini berada melingkupi kita sehingga tak jelas lagi esensinya ada disebelah mana.
Padahal hukum alam berkata lain. Bila Priyadi bilang ada yang bernama Efek Streissand, dilarang makin jadi penasaran, maka begitu pula alam ini bekerja. Allah menyatakan, bila ingin kaya sedekahlah, sepertinya kontradiksi, tapi memang begitulah rentetan rahasia itu bekerja. Mereka yang mengejar popularitas biasanya berbanding lurus dengan esensi yang kurang bermutu, sementara mereka yang mempunyai mutu tidak mengejar poplaritas. Dan seleksi alam lagi-lagi menemukan jalannya, bila memang tambang emas dalam hutan yang lebat pun orang akan berbondong-bondong mendatanginya. Maka blog-blog yang memang bermutu isinya, dia tidak lagi membutuhkan peraihan popularitas secara instan, entah itu dengan yang namanya blackhat seo, hits booster, spam comment/mail, dan macam-macam yang tujuannya mencari popularitas dengan menomorduakan konten, persis seperti ajang kontes artis-artis instan itu. Contoh sederhana yang kalau boleh saya sebutkan adalah priyadi.net. Lihat saja penampilan jadul, minim widget dan ciklet penarik hits, tapi toh kunjungan dan komen asli (bukan buatan sendiri) tetap mengalir deras. Saya lihat adalah karena priyadi mempunyai konten yang berkualitas. Dan konten yang berkualitas tidak bisa dipisahkan dengan pribadi yang berkualitas. Jadi kesimpulannya, cara untuk membuat blog Anda populer dan mendapat banyak hits, buatlah konten yang bermutu, untuk membuat konten Anda bermutu, jadilah orang yang bermutu. Bila Anda seorang istri jadilah istri yang taat suami, bila Anda seorang guru jadilah guru teladan, bila Anda seorang pegawai jadilah pegawai yang disiplin (jangan chatting atau ngeblog saja kerjanya).
Di sebuah blog sempat saya lihat headernya bertuliskan “Blog si Anu, May Usefull For All” lalu dibagian sidebar tertempel banner “Do not copy paste, Blog juga hasil karya”. Tidakkah kalian lihat ada sedikit kontradiksi disini? Bila memang dia bermaksud ngeblog untuk kemanfaatan semua manusia tidakkah mustinya malah mempersilahkan orang untuk kopipes? Bila orang boleh mengklaim hak cipta intelektual harusnya para nabi dan ulama paling berhak mengklaimnya karena kontennya di kopipes dimana-mana. Tapi toh mereka tidak pernah menyinggung tentang hak cipta karena orientasinya memang asli ‘may usefull for all’, tidak karena materi tidak juga karena popularity. Mereka telah mengetahui rahasia kehidupan bahwa sebenarnya hak cipta intelektual itu tidak penting dan juga sulit bagi manusia mengaturnya. Bagaimana bila saya mengarang novel berjudul sebanyak kata dalam kamus besar bahasa Indonesia lalu saya patenkan, bolehkah saya mengklaim orang lain yang membuat novel dengan mengandung kata yang sama dengan novel saya?
|