Maaf, saya sedang tidak bisa menemukan judul selain ini. Dan dengan sangat terpaksa judul yang sama persis dari tulisan Cak Nun ini saya pakai. Semoga tidak terjadi issu hak cipta judul seperti Arjuna Mencari Cinta. Saya sudah terangkan di awal bahwa judul ini sama persis dengan judul tulisan panjenenganipun Cak Nun yang saya baca sekitar 6 atau 7 tahun lalu di rubrik Ramadhan di sebuah harian.
With all respect, esensi artikel tersebut masih saja terngiang-ngiang sampai sekarang meski saya sudah lupa teksnya. Karenanya saya membungkukkan badan dan bersedia menjadi batu loncatan ke arah tujuannya bagi esensi artikel Cak Nun dulu itu. Salah satu sebab mengapa artikel ini masih terngiang sampai sekarang adalah karena selalu melihat dengan nyata apa yang dimaksudkan disana. Di mall, di apartemen, di hotel, di gedung, di departemen store, di perkantoran, saya lihat itu. Saya lihat slang-slang AC. Saya lihat musholla. Berada di bagian yang tidak terpetakan dalam blueprint gedung, melewati jalan dan lorong yang berliku-liku, melewati hembusan angin dari berlajur slang-slang AC dan seringkali berada di tempat gelap yang sedikit kumuh. Entah berapa banyak kekayaan alam dan resources yang Allah berikan kepada kita, lalu kita pakai, membuat bangunan semegah-megahnya demi untuk aktifitas kita sehari-hari dan lalu dengan sengaja kita bangun tempat khusus untuk mengingat-Nya yaitu di antara slang-slang AC.
|