Sabtu sore 27 September menjelang buka puasa saya berdiri di depan rumah nunggu bakso buat si Izzi. Tidak berapa lama kemudian lewat beberapa anak muda yang saya kenal sebagai gerombolan geng preman kampung sambil menuntun anjing. Saya tidak suka. Lalu saya tegur bahwa anjing dilarang lewat sini. Eh, marah (ya tentu saja..).. ya saya juga marah. Tanpa ngomong panjang kali lebar lagi salah satu dari mereka melayangkan uppercut kiri ke saya. Jbuk! … Reflek saya juga melayangkan jeb kanan. Lalu jbak! Jbuk! Jbak! Jbuk!.. terjadilah perkelahian seru di saat itu juga.
3 lawan 1. Saya kewalahan. Terjadi pengeroyokan. Saya jatuh mereka makin merangsek. Eh orang-orang cuma pada nonton. Saya lihat mereka semakin beringas. Dalam hujan pukulan saya berusaha bangkit dan membalas sekuat tenaga. Saya bisa bangun dan melepaskan diri dari mereka. Kakak saya berlari-lari memberi bantuan dan melerai.
Lumayan, satu gigi hampir copot dan berdarah. Pundak dan pinggul nyeri kena pukulan. Mereka berteriak-teriak ala preman kampung. Saya diam saja sambil saya pandangi penuh arti. Mereka mengancam-ancam. Oi.. oke. Lihat saja.
Saya dibawa ke RS untuk pengobatan dan visum.  Singkat cerita…
2 hari kemudian si preman kampung datang ke rumah meminta maaf dan memohon agar tidak diteruskan ke polisi. Saya memang kasih pilihan, mau diteruskan ke polisi atau minta maaf..
Kemarahan memang terlihat sebesar gunung tapi bila kita mau menahannya bisa jadi sebesar korma dan manis bila ditelan… another lesson for my life.
Terimakasih buat Mas Giarto dan pasukan, Mas Aang and the gank.. dan juga buat pak er-te dan kepala keamanan pak Kasno meski agak telat ngurusinnya hehe..
|