Halo, bagaimana kabar mu wahai Pak Peni atau yang mewakili ? Kebetulan depan jalan rumah saya ada sebuah ruko besar yang tertutup oleh poster super gede yang bergambar “pasangan sejenis” yaitu Pak Peni dan wakilnya. Artinya ruko itu adalah posko kampanyenya.
Eit kok ndlalah pas lewat saya belokkan diri saya ke posko itu. Say hello sana sini, ada sekitar 6 orang yang berkumpul dalam posko itu. Saya dipersilahkan masuk dengan baik, suara jedag jedug musik dikecilkan lalu saya ditanya ada perlu apa. Lalu saya ceritakan tentang undangan bantuan di GOR Kenarok dan kenyataan di lapangan bahwa belum ada bantuan turun sampai hampir sebulan ini.
Dari 6 orang yang ngumpul itu –sebagian ngumpul disitu karena memang hendak melayani saya dan sebagian lagi karena memang ndak ada tempat duduk lagi selain di ruang tamu itu, entah…- tanggapannya agak bermacam-macam, saya juga bingung. Ada yang serius sampai dibelain cari kertas untuk mencatat, dianggap sebagai laporan, ada yang antusias bertanya kronologisnya (polisi kali…rupanya dia ketinggalan info tentang even bosnya yang sebesar itu), lalu ada yang bilang, “Bantuan 500juta itu adalah janji bila terpilih…”, ada yang bilang lagi, “sudah cair kok per orang dapat 118 ribu..”… Nama dan alamat saya dicatat lengkap di atas kertas seadanya yang lecek itu, lalu kesimpulannya mereka berjanji akan meneruskan laporan ini ke posko pusat, entah didaerah mana lagi itu…
Gong Showw waw waw waw… saya bilang : “Bapak-bapak, saya bukannya hendak minta bantuan itu di posko ini, ini cuma cerita nyata dari lapangan yang berkaitan dengan calon yang Bapak sedang kampanyekan ini. Ini adalah suatu kondisi kontra produktif bagi Ebes Peni dan sudah semestinya diketahui. Menurut saya ini penting, silahkan cek langsung di lapangan karena bila tidak disikapi, efeknya cukup besar buat ebes peni, bayangkan 5000 orang yang kecewa dari seluruh kota Malang..”
Mereka masih minta dibawakan fotokopi undangan supaya dibawa kesitu. Biar jelas siapa yang ngundang katanya.. (kan sudah saya bilang itu dari pemkot, silahkan ke pak erwe saja)..
Oke.. saya ndak balik lagi kesitu. Saya pikir siapa yang perlu siapa, kalo perlu kopi undangannya mustinya mereka yang datang ke rumah. Dan ini sudah 4 hari dari saya mampir ke posko itu dan tetap saja keadaan adem ayem ngglenggem gak macem-macem alias ndak ada kabar apa-apa.. ya wis lah.. susah juga hendak jadi warga yang berpartisipasi..
|