
Entah dari mana ternyata bunga api atensi saya muncrat-muncrat hingga mengenai hal tentang Bollywood. *** Musik
dan lagu pada dasarnya adalah stimulan fantasi. Kira-kira seperti pil
ectasy gitu lah. Atau juga seperti octan booster pada kendaraan. Atau
juga seperti creatine untuk pefitness. Hal-hal tersebut sebenernya sih
gak ada masalah tanpa itu semua, karena itu cuma akselerator sahaja.
Bahkan bila stimulannya terlalu tinggi kadarnya bisa terjadi overdosis
karena ectasy, mesin kendaraan bisa overheat karena oktan terlalu
tinggi, atau maksud hati pengin bodybuilding tapi malah jadi monster-nya
Resident Evil. Tapi jika digunakan sesuai dosisnya maka fungsi
stimulannya bisa juga bermanfaat. Kuncinya adalah sesuai
dosis. Tapi sebagaimana pepatah bahwa peraturan dibuat untuk dilanggar,
maka pada kenyataannya penggunaan stimulan sering dipakai sampai limit.
Beberapa orang bereksperimen berharap mungkin bisa menghasilkan formula,
rumus atau mutan baru, tapi ya namanya eksperimen tidak selalu
berhasil. Thomas Alfa Edison saja membuat rusak 999 percobaan sebelum
berhasil yang kali ke-1000 nya. Sehingga yang terjadi lebih banyak
formula sampah daripada formula baru. Musik dan lagu yang
dasarnya hanya berfungsi stimulan kini sudah menjadi berbagai macam
bentuk dan fungsi. Ada yang jadi musik sampah, ada pula yang diakui
lebih berguna. Sangat bergantung pada kepentingan pelaku dan penikmatnya
masing-masing, mulai dari pencipta yang idealis ingin berkarya,
produser yang berorientasi komoditi bisnis, pemilik bisnis yang
menggunakannya sebagai iklan, penjajah yang ingin propaganda dan brain
wash, penyanyi yang ingin populer, pembajak yang ingin survive, sampai
pemarodi yang cuma iseng. Terserah Anda termasuk yang
mana, termasuk yang sudah mengolah-alihnya ke dalam berbagai bentuk dan
kepentingan atau termasuk mereka yang masih menggunakannya hanya sebagai
fungsi dasar semata. (Saya teringat video lagu "Indonesia Tanah Air
Beta"-nya Jaya Suprana, ada adegan biksu yang tidak mau menyanyi karena
menurut beliau menyanyi adalah ectasy) *** Ngomong-ngomong
tentang musik dan lagu, saya punya usul iseng saja buat para pembuat
indrustri lagu di Indonesia. Kalau kita berkiblat ke industri musik
barat saya pikir terlalu banyak yang harus dikorbankan termasuk budaya
masyarakatnya yang mati-matian dipertahankan dari serangan arus budaya
barat. Jadi kalo industri musik diarahkan kiblatnya ke barat akan
terjadi banyak benturan dan perombakan struktur budaya. Titik. Pikir aja
sendiri terusnya.. Saya usulkan Anda mempelajari yang
India lakukan dengan industri musiknya. Saya melihat India punya cara
lebih unik. Ialah lebih memilih meluncurkan lagu dengan paket video
klipnya alias lagu yang beredar kebanyakan adalah soundtrack film.
Correct me if I'm wrong, mulai lagu Tujhe Yaad Na Meri Aayee, Chaiyya
Chaiyya, Chaha Hai Tujhko sampai Kuch Kuch Hota Hai saya tidak pernah
tahu penciptanya, bandnya atau penyanyi yang sebenarnya, yang terbayang
adalah videoklip dengan aktor, penari, koreografi, pemandangan, cerita
dan kostumnya yang paten. Entah Anda mencibirnya atau apa
tapi kenyataannya mereka berhasil menjualnya. Barangkali mereka berpikir
ah tidak penting siapa pencipta, penyanyi atau boybandnya toh musik dan
lagu hanyalah stimulan, kenapa tak sekalian kita buat pendukung
suasananya yang paten? Dan itu ternyata lebih simpel urusannya plus
lebih banyak duitnya dari pada membuat industri musik dengan ratusan
penyanyi atau grup band baru. Belum terhitung artis hasil temuan acara
bakat atau hasil youtube gak sengaja. Mungkin Anda
menjawab ah jadinya gak imajinatif kreatif donk..? Ya terserah sih, kalo
masih enjoy dengan industri musik Indonesia yang ruwet ini ya go ahead
saja. Tapi kepatenan yang mungkin Anda bilang membatasi imajinasi ini
toh menciptakan seorang artis skala nasional bernama Briptu (coret) Norman,
padahal dia cuma iseng meniru 10% saja lho.. hehe
|
These couple of nights it can often be heard from my next door a husband and wife quarrel. I do not understand the language but according to the news they fight over her husband's infidelity. Even last night about 3 o'clock in the morning I was awakened by my wife because she feared his wife was fuel-burn something on the side of the house. I said just let it be, she is probably burning some photos.. In the morning I just knew it was burning clothes.
***
If I may give a little advice for the wives, like this .. First do not talk in a state of emotion, it would only muddy the waters. Emotions are burning up but calmness and common sense must remain on top. That is only the path that must be passed if still expect the conversations that produce a way out.
Secondly, know that it has several levels of cheating. Call it a level 1, 2 and 3. When the husband’s cheating is still at level 1, then as a wife, I recommend you to just simply shut up. Whether you know or not. Just shut up and shall apply reasonable and fun. Do not give the ultimate question 'choose me or her’ because in the cheating level 1 this question is not necessary, it will throw you both in a more complicated situation.
For verily Cheating level 1 is when the husband is still in the stage of interested, fascinated and amazed with another woman. He has not decided to leave you and divert time and energy to her. Cheating level 1 still have two possibilities, namely up to level 2 or go back to point 0 again. At this level 1 condition husband was actually comparing her with you.
As with any new healthy person feels when sick, more delicious diner A THAN diner B, artist A is more idol THAN artist B, as well as a spouse, sometimes at a certain moment the husband (or wife) requires a comparison of materials. Is to assure that his wife is still the best for him. So actually for the wives, in this condition it is best to be gentle and loving. Because it will increase the percentage likelihood cheating level 1 will return to the point 0, plus the husband will draw the conclusion that his wife was the best. But if you're doing is panicking, angry, sullen, even decided to give the ultimate question, then it plunged into the choice of husband-prone. Like the flu is still cold you decide to do the amputation surgery .. oh no. Again you must learn to restrain jealousy and emotion. For the good of your own.
What do you as a wife expect with this situation? Temptations of other women is an inevitable thing out there, from the environment, media, etc., either husband or before husband. You can not possibly sterilization unless the world contains only the human you and your husband, I and the other was a sculpture. You also may not believe 100% that your husband has no slightest vibration in the mind by the charms of other women -well, actually his normality must be retested if the so-. So the best you can do is cope with the situation after situation that occurs according to level. Remember when you first get married before, you feel proud to beat rivals your husband's girlfriend, in fact the competition was not yet over. So do not cease to tempt your husband with your charm like old times-not only physically alone.
Third, you (and husband) better do introspect silently first, because it could be his cheating is an access from the long accumulation of far less comfortable thing. Cheating often starts from a dead end or the callousness of verbal communication, gestures or written with his wife, and he found it on others. Dispose of your prestige, frankly ask if you want.
Because when the cheating has advanced to level 3, then the anger was still too vain, he had nothing you.
{fcomment}
|
Ini sekarang cerita tentang sepatu. Inget kan dulu saya pernah nytatus : “..ada gak sih sepatu / sandal model Crocs yang merk lain?” Kira-kira setahun yang lalu. Setahun yang lalu saya membeli sepatu merk Crocs karena sempat mencobanya di took dan rasanya memang enak dikaki. Akhirnya saya beli online itupun yang KW bukan yang ori, tapi tetep aja merknya Crocs. Sialnya ukurannya agak kekecilan, udah saya balikin 2 kali tetep aja agak kekecilan akhirnya saya pake aja. Jadilah sepatu Crocs saya itu saya pake sebagai sepatu sekaligus sandal karena saya injek belakangnya hehe.. Dulu saya beli seharga 240ribu, yang ori waktu itu kalo gak salah sekitar 400ribuan. Oh no, saya gak pengin beli sepatu semahal itu karena sepatu yang terlalu mahal akan bertempat dalam hati, sepatu haruslah bertempat di kaki. Entah kenapa waktu itu tidak ada merk lain yang punya model dan bahan baku seperti sepatu Crocs, jadi saya tidak ada pilihan merk lainnya. Yang waktu itu terasa sangat aneh buat saya, handphone aja yang komponennya njelimet bisa dijiplak, kok ini cuma sepatu gak ada yang bisa jiplak sih?? Kan ini saya beli udah sekitar satu tahun beredar.. (dan komen status saya di FB waktu itu juga saya simpulkan memang blom ada merk lain – karena gak ada yang komen kali ya..?) Bahannya memang kuat, enteng dan yang paling penting buat saya adalah tahan air, karena saya termasuk orang malas ganti-ganti sepatu/sandal. Ke pantai pun sering saya pake jadi bahan sepatu Crocs ini gampang kering dan aman terkena air laut n pasir. Tapi namanya dipake terus dan jarang dicuci, lama-lama jadi buluk juga. Apalagi pada suatu malam, (awas.. *lebay mode on) bulan tertutup awan, saat itu saya tertidur pulas di sebuah bangunan rumah di daerah Jimbaran, si Crocs tergeletak begitu saja di depan teras. Dini hari sesaat terdengar lolongan anjing. Dan ketika pagi tiba, ternyata sepatu tinggal satu! Semua orang saya kerahkan untuk mencarinya, untunglah ada seorang perempuan setengah tua lewat sambil bilang “kayaknya tadi saya liat sepatu dibawah situ.. mas” saya cari kesitu dan ketemu 50meter dari tempat asalnya. Gileee, ternyata sepatu saya dimakan anjing! Walhasil sepatu yang udah buluk semakin buluk plus sobek jahitannya! Singkat cerita istri saya yang orangnya rapi akhirnya merasa terenyuh dan kasihan melihat keadaan (sepatu) saya itu. Yang bisa dia lakukan hanyalah berdoa supaya saya mau beli lagi sepatu/sandal baru karena sepatu ini masih saja saya pake hingga sekarang. O, tapi saya akhirnya beli sepatu donk, 5 bulan lalu. Sepatu yang sama sekali berbeda sama Crocs ini, ialah sepatu boot tinggi yang tebal dan berat. Merk Krisbow, harga 250ribu, di Ace Hardware. Sepatu boot ini awalnya saya beli karena diajak teman naek gunung. Ternyata memang terpake untuk naek gunung sebulan sesudahnya. Ke Gunung Batur Bali. Cerita naek gunungnya di halaman laen sahaja. Dan akhirnya status saya setahun lalu terjawab kemaren, ternyata yang model gitu merk laen ada! Merknya Ardiles, harga 89ribu di Ramayana Bali. Saya beli sepatu buat mudik hari raya rek! Biar sepatu Crocs yang buluk dan sobek anjing sementara jangan dipake buat mertamu riyayan, hehe.. Ini Ardiles juga bahannya sama, enak dan enteng, jadi kenapa dia bisa murah ya? Kantornya Crocs berapa sih nomer telponnya? Jadi sekarang kuberitahukan padamu bahwa sepatu saya baru dan kamu punya opsi laen selain merk Crocs yang mahal gak jelas kenapa itu!
Foto menyusul..
|
|
|
|
|
|
|